Kilasbanggai.com
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Karir
  • Pedoman Media Siber
Senin, Juni 1, 2026
  • BERANDA
  • BANGGAI
  • MEMILIH 2024
    • Pemilu Legislatif
    • Pilpres
    • Pilkada
  • SULTENG
  • CELEBES
  • EKONOMI
  • POLITIK
  • OLAHRAGA
  • BISNIS
  • TRAVEL
  • ADVETORIAL
No Result
View All Result
Kilasbanggai.com
  • BERANDA
  • BANGGAI
  • MEMILIH 2024
    • Pemilu Legislatif
    • Pilpres
    • Pilkada
  • SULTENG
  • CELEBES
  • EKONOMI
  • POLITIK
  • OLAHRAGA
  • BISNIS
  • TRAVEL
  • ADVETORIAL
No Result
View All Result
Kilasbanggai.com
  • NASIONAL
  • BANGGAI
  • SULTENG
  • POLITIK
  • PARIWISATA
  • HUKRIM

Pidato Lahirnya Pancasila 1 Juni 1945: “Dari Sulteng untuk Papua”

Muhammad Maruf by Muhammad Maruf
1 Juni 2026
in Opini

Oleh: Dr. Ade Putra Ode Amane, S.Sos., M.Si – Dosen FISIP Universitas Muhammadiyah Luwuk/ Penceramah Utama Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP)

KILASBANGGAI.COM- Tanggal 1 Juni selalu memunculkan kembali ingatan kolektif masyarakat Indonesia mengenai peristiwa penting ketika Ir. Soekarno berdiri di depan sidang BPUPK dan memberikan pidato yang kemudian dikenal sebagai momen lahirnya Pancasila. Dalam pidato itu, Bung Karno bukan hanya memperkenalkan lima prinsip dasar negara, tetapi juga menyampaikan visi besar mengenai Indonesia yang mampu berdiri kokoh di atas keragaman suku, agama, budaya, bahasa, dan wilayah geografis yang sangat luas. Pancasila tidak muncul dari kekosongan, tetapi berasal dari perjalanan sejarah, penderitaan akibat kolonialisme, dan pemikiran mendalam mengenai karakter masyarakat Indonesia yang beragam. Bung Karno sendiri menekankan bahwa ia bukanlah pencipta Pancasila, melainkan mengungkapkan nilai-nilai yang sudah ada dalam tradisi masyarakat Indonesia, dikutip dari Aris Heru Utoma, dkk. Menemukan Kembali Api Pancasila Melalui Pidato-Pidato Bung Karno, ed. Aris Heru Utomo, Pertama. (Jakarta: Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Republik Indonesia, 2023).

Dalam konteks Indonesia saat ini, arti dari pidato tanggal 1 Juni 1945 semakin penting saat kita memandang luasnya Nusantara dari Sulawesi Tengah hingga Papua. Kedua daerah ini merupakan contoh nyata dari keberagaman Indonesia. Sulawesi Tengah dengan ragam etnis Kaili, Pamona, Mori, Bungku, Banggai, Balantak, Saluan, dan beraneka kelompok lainnya, serta Papua dengan ratusan suku dan bahasa setempat, menunjukkan bahwa Indonesia dibangun di atas landasan pluralitas yang sangat kaya. Jika bangsa ini dapat bertahan dengan teguh selama bertahun-tahun, salah satu alasannya adalah karena Pancasila telah berfungsi sebagai rumah bersama yang melampaui identitas suku dan daerah.

Pidato Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945 muncul di tengah kondisi bangsa yang berusaha menemukan kesepakatan bersama. Saat itu, Indonesia masih terjajah, tetapi para pendiri bangsa sudah mengerti bahwa meraih kemerdekaan tanpa adanya persatuan hanya akan mengakibatkan perpecahan. Oleh karena itu, Bung Karno menjadikan kebangsaan sebagai salah satu pilar utama dalam pemikiran Pancasila. Ia menyadari bahwa keberagaman merupakan realitas yang tak bisa dihilangkan dari bangsa Indonesia, melainkan harus diterima dan dijadikan kekuatan kolektif. Persatuan nasional menjadi syarat utama untuk melepaskan diri dari penjajahan dan membangun negara yang merdeka serta berdaulat.

BACA JUGA

Membaca Ulang APBD Sulteng: Benarkah Ketahanan Fiskal Kita Sedang Rapuh?

20 Mei 2026

Menggugat Prioritas Walikota Palu: Dibalik Bayang-bayang Politik dan Jeritan Ribuan Penganggur

17 Mei 2026

Semangat inilah yang perlu terus dipelihara dalam hubungan antara Sulawesi Tengah dan Papua. Kedua daerah ini pernah menghadapi beragam tantangan dalam aspek sosial, ekonomi, dan politik yang bervariasi. Namun, dalam pandangan Pancasila, tidak ada daerah yang lebih berhak atas identitas Indonesia dibandingkan dengan daerah lainnya. Tidak ada warga negara yang mempunyai hak lebih atas Indonesia dibandingkan yang lain. Setiap individu bangsa, baik yang lahir di Palu, Banggai, Poso, Morowali, maupun di Jayapura, Wamena, Merauke, dan Sorong, memiliki status yang setara sebagai pemilik sah negara ini.

Dalam sejarah perjalanan bangsa, Papua sering kali menjadi tanda tantangan untuk integrasi nasional. Berbagai isu pembangunan, kesejahteraan, akses pendidikan, kesehatan, dan konflik sosial-politik masih merupakan tugas yang belum sepenuhnya terselesaikan. Namun, jika kita merujuk kembali pada semangat pidato 1 Juni 1945, maka pendekatan yang dibutuhkan adalah pendekatan yang tidak hanya mengutamakan kekuasaan, tetapi juga menguatkan kemanusiaan, keadilan sosial, dan persatuan bangsa. Bung Karno menekankan bahwa Indonesia bukanlah negara milik satu golongan, satu agama, atau satu suku tertentu, tetapi negara untuk semua orang.

Oleh karena itu, arti makna “Dari Sulteng untuk Papua” bukan hanya sekedar ungkapan dukungan antar kawasan. Ini adalah seruan moral untuk mengembangkan rasa empati bangsa. Saat masyarakat Sulawesi Tengah menunjukkan perhatian terhadap pendidikan anak-anak Papua, saat institusi pendidikan tinggi di Palu memberikan kesempatan lebih luas untuk mahasiswa Papua, saat petugas kesehatan dari Sulawesi Tengah bersedia melayani di daerah terpencil Papua, pada saat itu Pancasila benar-benar diterapkan dalam tindakan yang konkret. Sebaliknya, ketika masyarakat Papua aktif terlibat dalam pembangunan nasional dan merasa dihargai sebagai bagian integral dari bangsa Indonesia, maka tujuan persatuan Indonesia semakin jelas terwujud.

Pancasila juga menekankan bahwa pembangunan seharusnya tidak semata-mata terfokus pada pertumbuhan ekonomi, tetapi harus berlandaskan pada keadilan sosial. Sila kelima mengingatkan kita bahwa tujuan utama negara adalah untuk memberikan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat Indonesia, bukan hanya bagi wilayah tertentu. Dalam hal ini, pembangunan di Papua bukanlah sekadar tindakan kasih sayang negara terhadap daerah yang terpinggirkan, tetapi merupakan pelaksanaan hak konstitusional bagi para warga negara. Keadilan sosial berarti memastikan bahwa anak-anak di kawasan pegunungan Papua mendapatkan kesempatan pendidikan yang setara dengan anak-anak di kota-kota besar di Indonesia. Keadilan sosial juga berarti memastikan bahwa seluruh warga dapat menikmati akses terhadap kesehatan, infrastruktur, dan peluang ekonomi tanpa adanya diskriminasi.

Lebih dalam, pidato pada tanggal 1 Juni 1945 menyampaikan pesan berharga bahwa kebangsaan Indonesia tidak ditentukan oleh kesamaan. Bung Karno menyadari bahwa Indonesia memiliki beragam identitas yang unik. Dengan demikian, Pancasila tidak memaksa semua individu untuk seragam, melainkan mengundang semua orang untuk hidup berdampingan dalam perbedaan. Prinsip ini sangat relevan untuk Papua yang kaya akan budaya yang luar biasa. Identitas lokal Papua tidak bertentangan dengan identitas bangsa Indonesia. Sebaliknya, keragaman budaya Papua memperkaya citra Indonesia sebagai sebuah bangsa yang beragam.

Dalam era di mana teknologi digital semakin menghubungkan kita, nilai-nilai Pancasila perlu diinterpretasikan dalam cara yang baru. Mahasiswa dari Sulawesi Tengah memiliki kesempatan untuk bekerja sama dengan rekan-rekan mereka di Papua dalam hal riset, inovasi, dan pelayanan kepada masyarakat. Pengajar di Sulawesi Tengah bisa saling bertukar metode pengajaran yang efektif dengan institusi pendidikan di Papua. Komunitas pemuda di kedua daerah tersebut dapat mengembangkan hubungan solidaritas yang semakin meneguhkan rasa cinta tanah air. Dengan cara ini, batasan wilayah yang terdapat antara Sulawesi Tengah dan Papua tidak lagi menghalangi upaya untuk membangun kesatuan.

Hari Lahir Pancasila sebenarnya lebih dari sekadar sebuah peringatan dalam sejarah. Ini adalah momen untuk merenungkan dan mempertanyakan apakah prinsip-prinsip yang diperjuangkan oleh para pendiri negara masih ada dalam perilaku kita sehari-hari. Apakah kita masih melihat sesama warga negara sebagai bagian dari keluarga yang sama? Apakah kita masih mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok? Apakah kita masih memperjuangkan keadilan sosial bagi mereka yang tinggal di daerah-daerah yang terasing dan kurang berkembang?

Dari Sulawesi Tengah untuk Papua, Semangat Pancasila perlu diwujudkan dalam semangat kerja sama nasional. Karena Indonesia tidak akan menjadi kokoh jika hanya sebagian kawasan yang berkembang, sementara kawasan lainnya masih terbelakang. Indonesia tidak akan mencapai keadilan jika sebagian masyarakat merasakan kesejahteraan, sedangkan yang lainnya masih berusaha untuk memenuhi kebutuhan primer. Indonesia juga tidak akan bisa utuh jika prasangka dan stereotip terus memisahkan generasi bangsa.

Puluhan tahun silam, Bung Karno memberikan pidato pada tanggal 1 Juni 1945, sebuah pesan yang masih relevan hingga kini: Indonesia adalah untuk semua. Dari Sabang hingga Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote, dari Sulawesi Tengah sampai Papua, seluruh masyarakat Indonesia disatukan oleh satu prinsip yang seragam, yakni Pancasila. Oleh karena itu, merayakan Hari Lahir Pancasila berarti memperbaharui tekad kita untuk menjaga kesatuan, memperjuangkan keadilan, dan merawat keragaman sebagai kekuatan bangsa.

Pada akhirnya, memperingati Pidato Lahirnya Pancasila 1 Juni 1945 tidak cukup hanya dengan upacara dan seremoni. Yang lebih penting adalah menghidupkan kembali “Api Pancasila” sebagaimana diungkapkan dalam berbagai pidato Bung Karno, yaitu semangat memperjuangkan persatuan, kemanusiaan, demokrasi, dan keadilan sosial.(*)

Tags: Dosen Unismuh LuwukDr Ade PutraHari Lahir PancasilaPenceramah BPIP
Previous Post

Menakar Makna Penghargaan Inflasi Sulteng: Antara Stabilitas Harga dan Kemandirian Sektor Riil

Next Post

Miris, Jenazah Balita Dibawa Pakai Motor usai Tak Dilayani Ambulans

Berita Pilihan

Membaca Ulang APBD Sulteng: Benarkah Ketahanan Fiskal Kita Sedang Rapuh?

by Muhammad Maruf
20 Mei 2026
0

Oleh : Moh. Rizal Liara - Founder Spirit Muda Indonesia  KILASBANGGAI.COM- Dalam beberapa pekan terakhir, publik Sulawesi Tengah diramaikan oleh...

Menggugat Prioritas Walikota Palu: Dibalik Bayang-bayang Politik dan Jeritan Ribuan Penganggur

by Muhammad Maruf
17 Mei 2026
0

Oleh: Muh Fajri Ardiansyah - Ketua Perhimpunan Rakyat Progresif Sulawesi Tengah KILASBANGGAI.COM- Kota Palu secara konsisten memegang predikat buruk sebagai...

Pernyataan Sekda dan Cermin Buram Meritokrasi di Banggai

by Muhammad Maruf
5 Mei 2026
0

Oleh: Hendra Dg Tiro - Sekretaris Umum HMI Cabang Luwuk Banggai KILASBANGGAI.COM- Pernyataan Sekretaris Daerah Kabupaten Banggai, Ramli Tongko, yang...

Ketimpangan dan Buruh Banggai yang Terabaikan

Ketimpangan dan Buruh Banggai yang Terabaikan

by Muhammad Maruf
1 Mei 2026
0

Oleh : Sugianto Adjadar (Sekretaris FNPBI Kabupaten Banggai) KILASBANGGAI.COM- Hari Buruh Internasional (May Day) merupakan hari monumental, bukan sekedar sesuatu...

Biaya Hidup Naik, Upah Diam: Ketimpangan yang Mematikan?

by Muhammad Maruf
18 April 2026
0

Oleh : Rifat  Hakim (Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik) KILASBANGGAI.COM- Setiap tahun, hidup terasa semakin mahal. Harga beras naik, biaya sewa...

Next Post
Miris, Jenazah Balita Dibawa Pakai Motor usai Tak Dilayani Ambulans

Miris, Jenazah Balita Dibawa Pakai Motor usai Tak Dilayani Ambulans

Discussion about this post

Miris, Jenazah Balita Dibawa Pakai Motor usai Tak Dilayani Ambulans

Miris, Jenazah Balita Dibawa Pakai Motor usai Tak Dilayani Ambulans

by Asnawi Zikri
1 Juni 2026
0

Pidato Lahirnya Pancasila 1 Juni 1945: “Dari Sulteng untuk Papua”

Pidato Lahirnya Pancasila 1 Juni 1945: “Dari Sulteng untuk Papua”

by Muhammad Maruf
1 Juni 2026
0

Menakar Makna Penghargaan Inflasi Sulteng: Antara Stabilitas Harga dan Kemandirian Sektor Riil

Menakar Makna Penghargaan Inflasi Sulteng: Antara Stabilitas Harga dan Kemandirian Sektor Riil

by Asnawi Zikri
30 Mei 2026
0

Pemprov Sulteng Raih Penghargaan Pengendalian Inflasi Terbaik II Se-Sulawesi, Kantongi Insentif Rp2 Miliar

Pemprov Sulteng Raih Penghargaan Pengendalian Inflasi Terbaik II Se-Sulawesi, Kantongi Insentif Rp2 Miliar

by Muhammad Maruf
29 Mei 2026
0

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Karir
  • Privacy Policy
Media Network

© 2023 Kilasbanggai.com

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BANGGAI
  • MEMILIH 2024
    • Pemilu Legislatif
    • Pilpres
    • Pilkada
  • SULTENG
  • CELEBES
  • EKONOMI
  • POLITIK
  • OLAHRAGA
  • BISNIS
  • TRAVEL
  • ADVETORIAL

© 2023 Kilasbanggai.com

error: Content is protected !!