KILASBANGGAI.COM, BANGGAI – Menanggapi eskalasi geopolitik di Timur Tengah akibat konflik yang memicu kekhawatiran krisis energi global, Anggota Komisi XII DPR RI, Beniyanto, memberikan pernyataan menyejukkan bagi masyarakat.
Ia menegaskan bahwa hingga saat ini, pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan gas nasional dalam kondisi stabil dan aman.
Hal tersebut disampaikan Beniyanto usai menggelar kegiatan Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan dan Silaturahmi di Kecamatan Bunta, Kabupaten Banggai, Sabtu (14/3/2026).
Beniyanto menjelaskan bahwa meski kawasan Timur Tengah merupakan lumbung energi dunia yang menyuplai hampir 30% kebutuhan minyak global melalui Selat Hormuz, Indonesia telah melakukan langkah antisipasi yang matang.
“Isu global ini memang berpengaruh pada geopolitik dunia karena 30% minyak dunia melewati Selat Hormuz. Namun, alhamdulillah, dari empat kapal kita yang berada di sana, dua sudah berhasil lolos dan dua lagi masih dalam perjalanan,” ujar legislator asal Sulawesi Tengah tersebut.
Ia memaparkan data bahwa kebutuhan energi nasional mencapai kurang lebih 1.600.000 barel per hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 605.000 barel dipenuhi dari produksi dalam negeri, sementara sisanya melalui impor.
“Penting untuk diketahui bahwa impor kita dari Selat Hormuz hanya sekitar 30%, sementara 70% lainnya berasal dari Amerika dan negara-negara lain.
Jadi, secara posisi stok, kita masih sangat aman,” tambahnya.
Beniyanto juga mengklarifikasi isu mengenai ketahanan stok 21 hari yang sempat memicu kekhawatiran di masyarakat.
Menurutnya, angka 21 hari tersebut bukanlah tanda bahwa stok akan habis, melainkan kapasitas siklus penyimpanan infrastruktur energi Indonesia.
Penampungan kita memang didesain untuk menampung stok selama 21 hari. Ini adalah siklus; kapal datang, mengisi, lalu didistribusikan ke depo-depo di seluruh Indonesia.
Jadi jangan salah paham, ini adalah manajemen sistem distribusi yang berjalan normal,” jelasnya.
Sebagai langkah jangka panjang menghadapi ketidakpastian harga minyak dunia, Beniyanto mengajak masyarakat untuk mulai mengadopsi gaya hidup hemat energi dan mempertimbangkan penggunaan kendaraan listrik.
Selain jauh lebih hemat, perawatannya sangat mudah karena tidak perlu ganti oli atau busi. Performa mesinnya pun sangat responsif,” kata Beniyanto.
Menutup wawancara, Beniyanto menyatakan telah berkomunikasi dengan Direktur Utama PLN saat pertemuan di Surabaya untuk mempercepat penyediaan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU), terutama di daerah-daerah kecil.
“Tantangannya memang di infrastruktur pengisian. Saya sudah meminta PLN berkolaborasi dengan Pertamina agar sistem transformasi energi dari BBM ke listrik bisa merata hingga ke desa-desa dan kota kecil, sehingga kita lebih siap jika sewaktu-waktu terjadi krisis energi dunia,” pungkasnya












Discussion about this post