Kilasbanggai.com
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Karir
  • Pedoman Media Siber
Rabu, Juli 1, 2026
  • BERANDA
  • BANGGAI
  • MEMILIH 2024
    • Pemilu Legislatif
    • Pilpres
    • Pilkada
  • SULTENG
  • CELEBES
  • EKONOMI
  • POLITIK
  • OLAHRAGA
  • BISNIS
  • TRAVEL
  • ADVETORIAL
No Result
View All Result
Kilasbanggai.com
  • BERANDA
  • BANGGAI
  • MEMILIH 2024
    • Pemilu Legislatif
    • Pilpres
    • Pilkada
  • SULTENG
  • CELEBES
  • EKONOMI
  • POLITIK
  • OLAHRAGA
  • BISNIS
  • TRAVEL
  • ADVETORIAL
No Result
View All Result
Kilasbanggai.com
  • NASIONAL
  • BANGGAI
  • SULTENG
  • POLITIK
  • PARIWISATA
  • HUKRIM

Tandayo dan Tano Doso’an: Kritik Ekologis di Tengah Arus Industrialisasi

Ikbal Siduru by Ikbal Siduru
8 November 2025
in Banggai, Luwuk

Oleh : Irsan S. Nang

KILASBANGGAI.COM – Ada yang menarik pada penutupan Festival Teluk Lalong 2025, khususnya saat penampilan monolog berjudul TANDAYO dari Kecamatan Moilong. Pertunjukan ini tidak hanya memikat secara artistik, tetapi juga menghadirkan pesan ekologis yang kuat tentang hubungan manusia, alam, dan budaya lokal yang kini mulai terkikis oleh arus industrialisasi.

 

BACA JUGA

Polres Banggai Naik Status Jadi Polresta, Sinyal Luwuk Menuju Kota Madya?

Polres Banggai Naik Status Jadi Polresta, Sinyal Luwuk Menuju Kota Madya?

1 Juli 2026
Teror Pencuri Sapi Hantui Warga Banggai, Polisi Diminta Bongkar Sindikat Pelaku

Teror Pencuri Sapi Hantui Warga Banggai, Polisi Diminta Bongkar Sindikat Pelaku

1 Juli 2026

Dalam monolog tersebut, Tandayo digambarkan sebagai seorang anak yang hidup di tengah hutan bersama kakeknya, Kai’ Tumpu Nu Alas yang jika diartikan berarti Penjaga Hutan. Mereka tinggal di sebuah pulau bernama Tano Doso’an, yang dikenal masyarakat sebagai Hutan Larangan, tempat sakral yang dijaga turun-temurun oleh para leluhur agar tetap lestari.

 

Tandayo digambarkan sebagai tameng dan pewaris Tano Doso’an, penerus nilai-nilai kearifan lokal yang menjunjung harmoni antara manusia dan alam. Di pulau itu hidup burung Maleo, satwa endemik Sulawesi yang memiliki makna spiritual bagi masyarakat adat. Namun, ketenangan hutan itu terusik ketika datang para pemburu serakah yang menjarah telur Maleo dan hasil hutan lainnya demi keuntungan pribadi.

 

Untuk melindungi tanah leluhurnya, Tandayo memasang Ombo’ penangkal sakral di setiap sudut pulau sebagai simbol perlindungan dan perlawanan terhadap keserakahan manusia. Tetapi keserakahan itu melampaui batas: para pemburu yang tak lagi percaya pada pantangan dan nilai adat menghancurkan seluruh Ombo’, merusak hutan larangan, dan menjarah seluruh isi Tano Doso’an. Burung Maleo pun hilang, dan hutan yang dulu hidup kini berubah menjadi ruang sunyi tanpa roh.

 

Pada akhir monolog, Tandayo bersumpah akan menuntut balas bagi mereka yang telah mencabik kehormatan budaya dan menghancurkan hutan warisan leluhurnya. Sumpah itu bukan hanya bentuk kemarahan, tetapi juga seruan moral bagi generasi hari ini agar tidak diam menyaksikan kerusakan alam yang kian parah.

 

Kisah yang dibawakan dalam monolog tersebut sesungguhnya merupakan kritik ekologis terhadap realitas kontemporer. Para “pemburu” dalam cerita melambangkan korporasi dan kekuatan industri yang membabat hutan adat atas nama investasi dan pembangunan. Di balik jargon pembangunan, tersimpan jejak perampasan ruang hidup hutan ditebang, habitat Maleo lenyap, dan nilai budaya yang selama ini menjaga keseimbangan ekosistem perlahan memudar.

 

Maleo dalam kisah ini adalah simbol kehidupan dan keseimbangan alam Sulawesi; sedangkan Tandayo adalah personifikasi dari perlawanan dan kesadaran ekologis. Keduanya merepresentasikan benturan antara kearifan lokal dan logika industri, antara nilai-nilai pelestarian dan kerakusan manusia modern.

 

Monolog Tandayo hadir bukan hanya sebagai karya seni, tetapi sebagai manifesto ekologis yang menggugah kesadaran publik. Ia mengingatkan kita bahwa hutan bukan sekadar sumber ekonomi, tetapi juga ruang spiritual dan identitas budaya. Ketika hutan rusak dan Maleo hilang, maka hilang pula sebagian dari jati diri masyarakat Sulawesi itu sendiri.

 

Karenanya, pesan yang ingin disampaikan jelas:

kita semua harus menjadi Tandayo penjaga Tano Doso’an di masa kini.

Menjadi mereka yang berani melindungi alam, budaya, dan kehidupan, meski arus industrialisasi terus menggoda dengan janji-janji pembangunan semu.

Previous Post

TNI Bantu Awasi Pembangunan Gedung Kopdes Merah Putih di Bunta, Banggai

Next Post

Bikin Heboh Warga! Mobil Terbakar Hebat di Depan Depot Pertamina Luwuk

Berita Pilihan

Polres Banggai Naik Status Jadi Polresta, Sinyal Luwuk Menuju Kota Madya?

Polres Banggai Naik Status Jadi Polresta, Sinyal Luwuk Menuju Kota Madya?

by Asnawi Zikri
1 Juli 2026
0

KILASBANGGAI.COM, LUWUK– Kepolisian Resor Banggai resmi naik status menjadi Polresta Banggai. Perubahan tipe tersebut ditandai dengan pergantian pucuk pimpinan yang...

Teror Pencuri Sapi Hantui Warga Banggai, Polisi Diminta Bongkar Sindikat Pelaku

Teror Pencuri Sapi Hantui Warga Banggai, Polisi Diminta Bongkar Sindikat Pelaku

by Asnawi Zikri
1 Juli 2026
0

KILASBANGGAI.COM, LAMALA– Kasus pencurian sapi kembali meresahkan masyarakat di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Dalam beberapa waktu terakhir, aksi pencurian ternak...

Bocah 7 Tahun Tewas Kecelakaan di Luwuk Selatan

Bocah 7 Tahun Tewas Kecelakaan di Luwuk Selatan

by Asnawi Zikri
1 Juli 2026
0

KILASBANGGAI.COM, LUWUK- Kecelakaan lalu lintas yang melibatkan dua sepeda motor kembali terjadi di Jalan Mandapar Kelurahan Tanjung Tuwis, Kecamatan Luwuk...

Pelayanan BRI Unit Bunta Tuai Protes, Warga Mengaku Dipersulit Cairkan Dana PIP

Pelayanan BRI Unit Bunta Tuai Protes, Warga Mengaku Dipersulit Cairkan Dana PIP

by Asnawi Zikri
1 Juli 2026
0

KILASBANGGAI.COM, BUNTA- Pelayanan Bank Rakyat Indonesia (BRI) Unit Bunta, Kecamatan Bunta, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, menuai sorotan tajam dari masyarakat....

Konsep Otomatis

Momentum Hari Bhayangkara ke-80: Polri Harus Semakin Profesional, Demokratis, dan Tetap Menjadi Pengayom Rakyat

by Muhammad Maruf
1 Juli 2026
0

KILASBANGGAI.COM,LUWUK – Memperingati Hari Bhayangkara ke-80, Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Luwuk Banggai secara resmi menyampaikan...

Next Post
Bikin Heboh Warga! Mobil Terbakar Hebat di Depan Depot Pertamina Luwuk

Bikin Heboh Warga! Mobil Terbakar Hebat di Depan Depot Pertamina Luwuk

Discussion about this post

Polres Banggai Naik Status Jadi Polresta, Sinyal Luwuk Menuju Kota Madya?

Polres Banggai Naik Status Jadi Polresta, Sinyal Luwuk Menuju Kota Madya?

by Asnawi Zikri
1 Juli 2026
0

Teror Pencuri Sapi Hantui Warga Banggai, Polisi Diminta Bongkar Sindikat Pelaku

Teror Pencuri Sapi Hantui Warga Banggai, Polisi Diminta Bongkar Sindikat Pelaku

by Asnawi Zikri
1 Juli 2026
0

Bocah 7 Tahun Tewas Kecelakaan di Luwuk Selatan

Bocah 7 Tahun Tewas Kecelakaan di Luwuk Selatan

by Asnawi Zikri
1 Juli 2026
0

Pelayanan BRI Unit Bunta Tuai Protes, Warga Mengaku Dipersulit Cairkan Dana PIP

Pelayanan BRI Unit Bunta Tuai Protes, Warga Mengaku Dipersulit Cairkan Dana PIP

by Asnawi Zikri
1 Juli 2026
0

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Karir
  • Privacy Policy
Media Network

© 2023 Kilasbanggai.com

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BANGGAI
  • MEMILIH 2024
    • Pemilu Legislatif
    • Pilpres
    • Pilkada
  • SULTENG
  • CELEBES
  • EKONOMI
  • POLITIK
  • OLAHRAGA
  • BISNIS
  • TRAVEL
  • ADVETORIAL

© 2023 Kilasbanggai.com