KILASBANGGAI.COM,TOILI BARAT – Suasana khidmat menyelimuti halaman Masjid Besar Nur Islah, Desa Sindangsari, Kecamatan Toili Barat, Kabupaten Banggai pada Sabtu pagi (21/3/2026). Ratusan umat Muslim memadati area masjid untuk melaksanakan shalat Idul Fitri 1447 Hijriah secara berjamaah, namun suasana berubah haru saat khutbah mulai disampaikan.
Ustadz As’ari, yang bertindak sebagai khatib tahun ini, membawakan pesan mendalam yang menyentuh relung hati para jamaah. Dalam khutbahnya, ia mengangkat sebuah simbol yang sangat dekat dengan keseharian keluarga saat lebaran: “Kursi Kosong di Meja Makan.”
Ustadz As’ari mengingatkan bahwa momen Idul Fitri seringkali menjadi pengingat yang tajam akan kehilangan. Kursi yang kini kosong di meja makan adalah tanda bahwa orang tua atau orang terkasih yang tahun lalu masih bersenda gurau, kini telah berpulang ke hadirat-Nya.
“Lebaran tahun ini terasa berbeda bagi sebagian kita. Ada kursi yang kini tak berpenghuni di meja makan. Tidak ada lagi suara petuah ayah atau hangatnya masakan ibu,” ucap Ustadz As’ari dengan suara bergetar yang membuat banyak jamaah tertunduk mengusap air mata.
Beliau berpesan dengan sangat kuat kepada jamaah yang kedua orang tuanya masih lengkap agar tidak menyia-nyiakan waktu. Ia menekankan bahwa bakti kepada orang tua adalah kunci keberkahan hidup, sebab restu mereka adalah pintu langit.
Berikan kasih sayang terbaik sebelum kursi di meja makan itu benar-benar menjadi kosong selamanya. Menyadari bahwa kehadiran orang tua adalah nikmat terbesar yang seringkali baru terasa maknanya saat mereka telah tiada.
“Apalah arti diri kita tanpa restu keduanya? Manfaatkanlah waktu yang ada, karena suatu saat, kita semua hanya akan menyisakan kenangan di atas kursi kosong itu,” pungkasnya menutup khutbah yang penuh tetesan air mata tersebut.
Pelaksanaan shalat Idul Fitri di Desa Sindangsari pun diakhiri dengan bersalam-salaman antar warga yang berlangsung penuh kekeluargaan dan rasa syukur.(*)












Discussion about this post