Kilasbanggai.com
Minggu, April 19, 2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Karir
  • Pedoman Media Siber
  • Login
  • BERANDA
  • BANGGAI
  • MEMILIH 2024
    • Pemilu Legislatif
    • Pilpres
    • Pilkada
  • SULTENG
  • CELEBES
  • EKONOMI
  • POLITIK
  • OLAHRAGA
  • BISNIS
  • TRAVEL
  • ADVETORIAL
No Result
View All Result
Kilasbanggai.com
  • BERANDA
  • BANGGAI
  • MEMILIH 2024
    • Pemilu Legislatif
    • Pilpres
    • Pilkada
  • SULTENG
  • CELEBES
  • EKONOMI
  • POLITIK
  • OLAHRAGA
  • BISNIS
  • TRAVEL
  • ADVETORIAL
No Result
View All Result
Kilasbanggai.com
  • NASIONAL
  • BANGGAI
  • SULTENG
  • POLITIK
  • PARIWISATA
  • HUKRIM

BUMDes Stagnan: Salah Nahkoda atau Mesin yang Rusak?

Ikbal Siduru by Ikbal Siduru
4 Maret 2026
in Opini
Rano Sanjaya Abdusama, ST

Rano Sanjaya Abdusama, ST

Oleh: Rano Sanjaya Abdusama, ST

KILASBANGGAI.COM – Di banyak desa, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) lahir dengan ekspektasi tinggi. Ia digadang-gadang menjadi “mesin uang” yang menggerakkan kesejahteraan warga, membuka lapangan kerja, sekaligus mengonversi potensi lokal menjadi nilai tambah.

Namun, realita seringkali tidak seindah teks di atas proposal. Banyak BUMDes yang justru berjalan tertatih, mati segan hidup tak mau, atau bahkan berhenti total di tengah jalan.

BACA JUGA

Konsep Otomatis

Biaya Hidup Naik, Upah Diam: Ketimpangan yang Mematikan?

18 April 2026

Dari Kelalaian ke Kematian: Akankah Hukum Tegak Tanpa Pandang Bulu?

9 April 2026

Pertanyaan besar pun muncul: ketika BUMDes gagal berkembang, apakah ini murni kegagalan kepemimpinan Kepala Desa, atau ada sistem besar yang memang belum berpihak pada kemajuan desa?

Kepala Desa memegang posisi paling krusial dalam ekosistem BUMDes. Ia bukan sekedar pejabat yang memotong pita peresmian atau menandatangani SK pengurus, Ia adalah nahkoda.

Mulai dari keberanian menyusun regulasi desa, ketepatan menempatkan sumber daya manusia, hingga visi membuka ruang inovasi, semuanya bermuara di meja kerja Kepala Desa.

BUMDes yang dibiarkan berjalan tanpa peta jalan (roadmap) yang jelas ibarat kapal yang dilepas ke samudera tanpa kompas.

Di sinilah evaluasi diri menjadi wajib. Apakah Kepala Desa sudah benar-benar membedah model bisnis BUMDes-nya? Ataukah selama ini BUMDes hanya dipandang sebagai penggugur kewajiban administratif semata?

Namun, menunjuk hidung Kepala Desa sebagai satu-satunya penyebab kegagalan adalah langkah yang simplistis.

Kita harus jujur bahwa sistem yang mengelilingi BUMDes sering kali penuh simpul yang menjerat.

Regulasi yang tumpang tindih antara kementerian, pendampingan yang bersifat seremonial tanpa keberlanjutan, hingga akses pasar yang terkunci menjadi dinding tinggi bagi usaha desa.

Tak jarang, pengelola BUMDes memiliki semangat api, namun langkahnya tersandung oleh prosedur yang tidak adaptif terhadap dinamika ekonomi lokal.

Dalam hal ini, pemerintah pusat dan daerah perlu bercermin: apakah sistem yang ada saat ini adalah jembatan menuju kemajuan, atau justru pagar yang mengurung potensi desa?

Investasi Kompetensi, Bukan Sekedar Niat , Faktor lain yang sering luput adalah profesionalisme.

Mengelola BUMDes bukan soal niat baik atau kedekatan politik, melainkan soal kompetensi.

Membaca laporan keuangan, menyusun rencana bisnis (business plan), hingga membangun jejaring kemitraan memerlukan keterampilan khusus yang tidak selalu tersedia secara instan di desa.

Kepala Desa yang visioner akan melihat ini sebagai peluang investasi jangka panjang. Caranya? Dengan mengirim pengelola untuk pelatihan intensif, melakukan studi banding ke desa-desa mandiri, atau berani menggandeng pihak ketiga sebagai mitra strategis demi transfer ilmu pengetahuan.

Aspek terakhir yang tak kalah vital adalah transparansi. BUMDes hidup dari modal negara dan harapan masyarakat.

Ketika laporan keuangan tertutup dan keputusan diambil di ruang-ruang gelap, maka kepercayaan publik akan luntur.

Kepala Desa dan pengelola harus mengembalikan BUMDes ke pangkuan warga.

Forum pertanggungjawaban terbuka dan papan informasi publik harus menjadi standar. Di sana, kritik warga tidak boleh dianggap sebagai gangguan atau serangan politik, melainkan “bahan bakar” utama untuk perbaikan sistem secara kolektif.

Pada akhirnya, menjawab dilema antara “evaluasi diri atau sistem” tidak harus dengan memilih salah satu. Keduanya adalah dua sisi dari koin yang sama.

Kepala Desa harus berani bercermin atas kepemimpinannya, sementara di saat yang sama, pemegang kebijakan di tingkat atas harus membenahi sistem agar lebih ramah bagi pelaku usaha desa.

BUMDes yang mandiri bukanlah sebuah keajaiban yang jatuh dari langit.

Ia adalah buah dari kepemimpinan yang mau terus belajar, sistem yang suportif, dan masyarakat yang terlibat aktif.

Jika hari ini BUMDes masih tersendat, anggaplah itu sebagai jeda sejenak untuk menata ulang arah kompas. Sebab, di balik setiap desa yang bangkit, selalu ada keberanian untuk mengakui kekurangan dan tekad untuk melangkah lebih jauh.

Previous Post

Tragedi Selasa Sore di Luwuk: Truk Fuso Hilang Kendali, Satu Nyawa Melayang

Next Post

Dukung Ketahanan Pangan, Wakapolsek Bunta Pimpin Penanaman Jagung di Desa Bohotokong

Berita Pilihan

Konsep Otomatis

Biaya Hidup Naik, Upah Diam: Ketimpangan yang Mematikan?

by Muhammad Maruf
18 April 2026
0

Oleh : Rifat  Hakim (Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik) KILASBANGGAI.COM- Setiap tahun, hidup terasa semakin mahal. Harga beras naik, biaya sewa...

Dari Kelalaian ke Kematian: Akankah Hukum Tegak Tanpa Pandang Bulu?

by Muhammad Maruf
9 April 2026
0

Oleh: Fikri Palawa - Pemuda Luwuk Timur KILASBANGGAI.COM- Peristiwa kecelakaan lalu lintas yang mengguncang Desa Hunduhon, Kecamatan Luwuk Timur, Kabupaten...

Rakyat Taat Membayar, Tapi Air Sulit Mengalir: Menguji Tanggung Jawab Pemerintah Daerah

by Muhammad Maruf
10 Maret 2026
0

Oleh: Rifat Hakim ( Pengurus DPP GMNI)  KILASBANGGAI.COM- Krisis air bersih yang mulai dirasakan oleh sebagian masyarakat di Kabupaten Banggai...

Apa Yang Akan Dipertanggungjawabkan Dalam RAT, Jika Koperasi Desa Merah Putih Belum Punya Usaha

Apa Yang Akan Dipertanggungjawabkan Dalam RAT, Jika Koperasi Desa Merah Putih Belum Punya Usaha

by Ikbal Siduru
4 Maret 2026
0

Oleh : Rano Sanjaya Abdusama, ST KILASBANGGAI.COM - Di banyak desa hari ini, pertanyaan yang sering muncul menjelang Rapat Anggota...

Menjaga Marwah di Hari Pers Nasional: Jurnalisme adalah Karya, Bukan Sekedar Atribut

Menjaga Marwah di Hari Pers Nasional: Jurnalisme adalah Karya, Bukan Sekedar Atribut

by Ikbal Siduru
7 Februari 2026
0

Oleh: "Ikbal Siduru" Jurnalis kilasbanggai.com KILASBANGGAI.COM - Menjelang peringatan Hari Pers Nasional pada 9 Februari 2026 mendatang, refleksi mendalam mengenai...

Next Post
Dukung Ketahanan Pangan, Wakapolsek Bunta Pimpin Penanaman Jagung di Desa Bohotokong

Dukung Ketahanan Pangan, Wakapolsek Bunta Pimpin Penanaman Jagung di Desa Bohotokong

Discussion about this post

Konsep Otomatis

Biaya Hidup Naik, Upah Diam: Ketimpangan yang Mematikan?

by Muhammad Maruf
18 April 2026
0

Diduga Angkut BBM Ilegal, Truk Tangki Berwarna Biru-putih Diamankan Polisi

Diduga Angkut BBM Ilegal, Truk Tangki Berwarna Biru-putih Diamankan Polisi

by Ikbal Siduru
17 April 2026
0

Anwar Hafid Hadirkan Ustaz Hanan Attaki, Perayaan HUT Sulteng Ke-62 Berlangsung Khidmat

Anwar Hafid Hadirkan Ustaz Hanan Attaki, Perayaan HUT Sulteng Ke-62 Berlangsung Khidmat

by Muhammad Maruf
17 April 2026
0

Tutup Latsar CPNS, Bupati Banggai Laut Ingatkan ASN Jangan Malas

Tutup Latsar CPNS, Bupati Banggai Laut Ingatkan ASN Jangan Malas

by Uci Saripi
17 April 2026
0

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Karir
  • Privacy Policy
Media Network

© 2023 Kilasbanggai.com

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BANGGAI
  • MEMILIH 2024
    • Pemilu Legislatif
    • Pilpres
    • Pilkada
  • SULTENG
  • CELEBES
  • EKONOMI
  • POLITIK
  • OLAHRAGA
  • BISNIS
  • TRAVEL
  • ADVETORIAL

© 2023 Kilasbanggai.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
error: Content is protected !!