KILASBANGGAI.COM, PALU– Dampak gempa bumi Magnitudo 6,7 yang mengguncang Sulawesi Tengah masih dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah.
Berdasarkan data sementara yang dihimpun Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Rabu (17/6/2026) pukul 19.20 WIB, sebanyak 2.012 kepala keluarga atau 6.458 jiwa tercatat terdampak di Kota Palu, Kabupaten Sigi, Donggala, Poso, dan Parigi Moutong.
Kabupaten Sigi menjadi daerah dengan jumlah warga terdampak terbesar, yakni 1.991 kepala keluarga atau 6.418 jiwa.
Sementara di Kabupaten Parigi Moutong tercatat 21 kepala keluarga atau 40 jiwa terdampak.
Pendataan di wilayah lain masih terus dilakukan oleh pemerintah daerah dan tim gabungan.
Selain menyebabkan satu korban meninggal dunia di Kabupaten Sigi, gempa juga mengakibatkan 79 warga mengalami luka-luka.
Rinciannya, 15 orang mengalami luka berat dan 64 orang luka ringan yang tersebar di Kabupaten Sigi, Kota Palu, dan Kabupaten Poso.
Kerusakan permukiman warga juga cukup signifikan. Sedikitnya 1.456 rumah mengalami rusak ringan, 112 rumah rusak sedang, dan 47 rumah rusak berat.
Sebagian besar kerusakan berada di Kabupaten Sigi yang menjadi wilayah paling terdampak oleh guncangan gempa.
Tak hanya rumah warga, sejumlah fasilitas umum turut mengalami kerusakan. Tercatat 35 tempat ibadah, 10 fasilitas pendidikan, 11 gedung perkantoran, dua jembatan, lima UMKM, empat hotel, satu villa, satu gedung pertemuan, dan satu rumah adat terdampak akibat gempa.
Di Kabupaten Poso, proses pendataan masih menghadapi kendala karena akses menuju Kecamatan Lore Utara belum dapat dijangkau akibat terputusnya jaringan komunikasi serta keterbatasan sarana transportasi dan personel.
Kondisi ini menyebabkan asesmen dampak gempa belum dapat dilakukan secara maksimal.
Sementara itu, di Kota Palu, Jembatan Palu III masih ditutup sementara setelah ditemukan keretakan pada struktur jembatan. Pemerintah daerah bersama instansi terkait masih melakukan kajian teknis guna memastikan keamanan jembatan sebelum kembali difungsikan.
Belakangan, Jembatan Palu III kini mulai dibuka, tapi hanya bisa dilewati kendaraan kecil.
Untuk mempercepat penanganan dampak bencana, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah telah menetapkan status tanggap darurat selama tujuh hari, terhitung mulai 17 hingga 23 Juni 2026.
Berbagai upaya terus dilakukan, mulai dari pendirian posko darurat, distribusi bantuan logistik, layanan kesehatan bagi korban, hingga pendataan kerusakan dan kebutuhan warga.
Saat ini, kebutuhan mendesak yang masih diperlukan di lapangan meliputi bantuan logistik, terpal untuk menutup bangunan yang rusak, serta tambahan tenda darurat guna mendukung pelayanan masyarakat terdampak. (*)












Discussion about this post