KILASBANGGAI.COM, LUWUK– Puluhan ton komoditas perikanan asal Kabupaten Banggai Laut dilaporkan gagal dikirim ke Jayapura karena keterbatasan kontainer pada kapal milik PT Pelni.
Kondisi ini memicu keluhan dari para pengusaha lokal yang merasa dirugikan akibat tertahannya hasil laut yang seharusnya segera dipasarkan.
Menanggapi persoalan tersebut, Ketua DPRD Banggai Laut, Patwan Kuba, menyatakan keprihatinannya atas situasi yang dialami para pengusaha dan nelayan di daerahnya.
Menurutnya, keberadaan kapal yang singgah di Banggai Laut seharusnya juga memberikan ruang bagi masyarakat setempat untuk mengangkut komoditas mereka.
Ia menilai alasan kontainer yang sudah penuh tidak seharusnya membuat barang milik masyarakat Banggai Laut tidak dapat dimuat.
“Kalau kapal masuk di Banggai Laut, harusnya ada kuota untuk masyarakat di daerah ini. Jangan sampai semua kontainer sudah terisi dari pelabuhan lain, sementara pengusaha kita tidak mendapat kesempatan,” ujarnya.
Akibat tidak terangkutnya komoditas tersebut, puluhan ton ikan yang siap dikirim ke Jayapura terpaksa tertahan.
Situasi ini berpotensi menimbulkan kerugian besar bagi para pengusaha maupun nelayan yang bergantung pada jalur distribusi laut untuk memasarkan hasil tangkapan mereka.
Patwan menegaskan DPRD Banggai Laut akan mengawal persoalan ini dan berencana membawa keluhan tersebut ke tingkat pusat agar mendapatkan perhatian serius.
“Kami akan menindaklanjuti masalah ini dan berencana menyampaikan langsung ke kantor pusat PT Pelni agar ada evaluasi,” tegasnya.
Ia juga menyebut pihaknya menerima informasi adanya dugaan praktik jual beli kargo pada salah satu kapal Pelni yang melayani rute tersebut. Dugaan itu, kata dia, perlu ditelusuri lebih lanjut agar tidak merugikan masyarakat daerah.
Sementara itu, Kepala PT Pelni Cabang Luwuk, Andi Esse Djalante, menjelaskan bahwa pemesanan kontainer pada kapal Pelni dilakukan melalui aplikasi resmi sehingga sistemnya bersifat terbuka dan seluruh data pemesanan tercatat.
Ia juga menyampaikan bahwa uang muka (DP) yang telah dibayarkan oleh para pengusaha telah dikembalikan setelah diketahui kapasitas kontainer kapal telah penuh.
Meski demikian, para pengusaha di Banggai Laut menilai pengembalian uang muka tersebut belum menyelesaikan persoalan utama. Mereka menegaskan kerugian yang timbul akibat tertahannya komoditas perikanan jauh lebih besar dibandingkan nilai DP yang dikembalikan.
Para pengusaha pun berharap PT Pelni dapat mengevaluasi sistem distribusi kontainer dan kargo agar daerah penghasil perikanan seperti Banggai Laut tetap mendapat kesempatan yang adil dalam proses pengiriman hasil laut ke luar daerah. (*)














Discussion about this post